Silaturrahim Jarak Jauh

Oleh : Mohamad Ansori, M.Pd.I (PAI Kecamatan Ngunut)

Menjalin, mempererat, dan menjaga silaturrahim sangat dianjurkan oleh Islam. Hubungan yang baik antar sesama umat manusia tidak saja bermanfaat secara pribadi, tetapi juga dalam konteks kemasyarakatan dan kenegaraan. Silaturrahim yang baik antar sesama dapat mengurangi syak wasangka, saling curiga, dan su’udzon. Sebaliknya silaturrahim yang buruk dapat memperkeruh situasi kemasyarakatan yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan. Apalagi, sudah mulai banyak diantara kita, yang tidak suka lebih dulu melakukan tabayyun terhadap informasi yang kita terima. Berita hoax lebih mudah dipercaya dibanding truth.

Silaturrahim dipercaya dapat menyelesaikan masalah kemasyarakatan. Salah satu buktinya adalah penyelesaian persoalan kebangsaan yang terjadi di Indonesia pada tahun 1948. Silaturrahimlah yang menjadi dasar pelaksanaan halal bi halal pada saat itu, yang kemudian dapat mencairkan ketegangan antar tokoh bangsa.

Sebagaimana dilansir pada tanggal 7 Mei 2022, mengutip artikel karya Masdar Farid Mas’udi, salah satu Rais PBNU, Ali Mashar mengisahkan pada 1948, Presiden Soekarno mengajak Kiai Abdul Wahab berdiskusi untuk mencari solusi dari masalah perpecahan para elit politik saat itu.

Kiai Abdul Wahab Chasbullah pun mengusulkan agar semua tokoh politik dikumpulkan dalam acara silaturahim bertepatan dengan hari raya yang akan datang. Menurutnya, para politisi tersebut bisa diberi pengertian bahwa sikap saling menyalahkan itu salah dan haram.

“Karena haram, maka harus dibuat halal dengan cara saling bertemu, duduk satu meja, dan saling memaafkan. Maka acara silaturahmi yang digagas itu kemudian disepakati dengan istilah halal bihalal (2018:116)

Silaturrahim tidak khusus dilaksanakan pada hari raya Idul Fitri. Namun demikian, silaturrahim pada hari raya Idul Fitri memiliki makna dan nilai khusus. Paling tidak, pada hari raya Idul Fitri semua umat Islam menyediakan waktunya untuk bersilaturahim atau sebaliknya. Hari yang disepakati sama-sama libur dari pekerjaan, pendidikan, atau aktivitas rutin lainnya itu sangat pas digunakan untuk saling mengunjungi.

Mengunjungi sanak saudara pada hari raya Idul Fitri “tidak akan mengganggu”. Sementara berkunjung ke saudara pada hari-hari biasa bisa jadi berbenturan dengan aktivitas rutin yang dilaksanakannya. Jadi, pernyataan bahwa “silaturrahim dan saling memaafkan tidak harus pada hari raya Idul Fitri” adalah benar. Namun, silaturrahim pada hari raya Idul Fitri sangat efektif dan efisien. Belum lagi tambahan-tambahan kemulyaan bulan Syawal yang menjadi bonus bagi umat muslim.

Kata syawal berarti membesar. Syawal juga berarti menaik atau meninggi. Maknanya bulan syawal adalah bulan dimana derajat umat Islam yang mengerjakan puasa Ramadhan akan menaik atau meninggi. Bulan syawal menandai kelahiran umat Islam sebagai manusia baru yang lebih baik. Oleh karena itu, bulan syawal juga merupakan momentum untuk bersyukur, yakni mensyukuri nikmat iman dan Islam serta kemampuan dan kelancaran untuk melaksanakan ibadah puasa Ramadhan.

Bulan syawal adalah bulan yang istimewa. Puasa sunnah 6 hari pada bulan syawal mendapatkan pahala yang sangat tinggi. Dalam hadist yang diriwayatkan oleh Imam Muslimi Rasulullah Saw bersabda: “Barangsiapa yang berpuasa Ramadhan kemudian berpuasa enam hari di bulan Syawal, maka dia berpuasa seperti setahun penuh.” (HR. Muslim no. 1164).

Silaturahim Jarak Jauh

Silaturahim tidak harus dilakukan dengan tatap muka. Jarak yang jauh bisa jadi memisahkan satu muslim dengan muslimin lainnya. Kemajuan teknologi komunikasi memungkinkan kita tetap berkomunikasi meskipun jaraknya jauh. Teknologi dapat menjadi media menjaga silaturahim orang-orang yang tinggal di tempat yang berbeda.

Pertanyaannya, apakah bersilaturrahim dengan hanya menggunakan media komunikasi dapat dikategorikan sebagai amal silaturrahim sebagaimana diajarkan oleh Islam?

Kata silaturahmi berasal dari dua kata, yang pertama kata صلةyang akar katanya berasal dari kata وصلartinya menghubungkan atau hubungan. Dan yang kedua adalah kata الرحيم atau الرحم kata jamaknya adalah الارحامyang artinya rahim atau kerabat atau bahkan peranakan perempuan. Akarnya adalah ar-rahmah artinya kasih sayang. Dikarenakan adanya hubungan hubungan kekerabatan atau rahim, orang orang saling yang berkasih sayang, karena itu kata rahimini dugunakan(Habibah, 2013).

Kata silaturahmi itu mengandung rahmat dan kasih sayang didalamnya, jadi silaturahmi ini sangat dianjurkan bahkan harus dilakukan oleh umat Islam tanpa terkecuali, tidak peduli ia memiliki kaitan hubungan keturunan (nasab) maupaun tidak bahkan hanya persaudaraan sebagai sesama umat muslim saja. Tidak cukup disitu, kepada orang non muslim pun kita dianjurkan menjaga silaturrahim, agar terdapat kehidupan yang penuh kasih sayang di masyarakat.

Dengan demikian, tujuan dari menjaga silaturrahim adalah terciptanya rasa kasih sayang diantara anggota masyarakat, terlebih di kalangan kaum muslimin. Silaturrahim jarak jauh dengan menggunakan media komunikasi tetap saja menjadi ibadah silaturrahim asal tujuannya tetap tercapai, yaitu terciptanya hubungan yang baik antar sesama. Utamanya agar umat Islam tidak tercerai berai.

Hanya saja, bersilaturahim dengan tatap muka tentunya lebih afdhol. Silaturrahim tatap muka memerlukan daya, upaya, tenaga, dan waktu yang lebih. “Perjuangannya” juga membutuhkan usaha yang lebih keras. Apalagi, jika silaturrahim itu berkaitan langsung dengan anak, istri, apalagi ibu dan bapak. Tentu akan sangat lebih afdhol jika dilaksanakan dengan tatap muka. Rasa rindu ayah ibu tentu tidak bisa terpuaskan jika hanya melihat gambar melalui video call, tanpa peluk cium penuh kasih sayang terhadap anak-anaknya. Wallahu’alam.