Cegah Perbikahan Dini, Begini Upaya Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pucanglaban

Kasus pernikahan dini di Kabupaten Tulungagung terus meningkat. Lebih dari 1.000 lebih calon pasangan suami istri di bawah 19 tahun mengajukan dispensasi pernikahan. Hal itu mendorong Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pucanglaban aktif melakukan penyuluhan kepada para pelajar untuk mencegah pernikahan tersebut.

“Pernikahan dini perlu untuk dihindari,” kata Suliana, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pucanglaban pada Kamis (23/09/2021).

Menurutnya, pernikahan dini menimbulkan beberapa dampak negatif untuk pasangan tersebut.

“Dari sisi medis, perempuan hamil yang berusia 15-19 memiliki resiko kematian dua kali lipat lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan yang berusia 20-25 tahun,” ungkapnya.

Selain itu, pernikahan yang dilakukan pada usia remaja itu berdampak buruk pada psikologis karena cara berpikir yang belum matang.

Suliana juga menyebut bahwa 44 persen perempuan yang menikah saat usia dini juga mengalami Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) dengan frekuensi tinggi. Sedangkan 56 persen perempuan yang menikah dini juga mengalami KDRT dengan frekuensi rendah.

“Jadi, semua perempuan yang menikah dini rata-rata mengalami KDRT,” kata penyuluh agama yang hobi memasak itu.

Maka dari itu, Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pucanglaban akan terus menggelar pelaksanaan sosialisasi untuk menekan kasus pernikahan dini.

“Penyuluh Agama Islam Kecamatan Pucanglaban tidak hanya memberikan penyuluhan pencegahan pernikahan dini di majelis taklim. Penyuluhan tersebut dilakukan juga di sekolah dan madrasah,” pungkasnya.