Khutbah Idul Adha: Refleksi Ujian Keimanan Untuk Setiap Hamba

Oleh: Drs. H Kanafi*


اِنَّ الحَمْدَ لِلّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَعُوْدُ بِالِلّهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِهِ أللّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَاهَادِيَ لَهُ, اَشْهَدُ اَنْ لَا اِلَهَ اِلَّا اللّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ اِلَهُ العَالَمِيْنَ. وَاشْهَدُ اَنَّ نَبِيَّنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ. اَللّهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى عَبْدِكَ وَرَسُوْلِكَ مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. اَمَّا بَعْدُ فَيَا عِبَادَ اللّهُ اُوْصِيْكُمْ وَاِيَّايَ بِتَقْوَى اللّهُ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلخُوْنَ.
اَللّهُ اَكْبَرْ اَللّهُ اَكْبَرْ اَللّهُ اَكْبَرْ, وَلِلّهِ الحَمْدُ

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Rasa syukur yang mendalam sudah selayaknya senantiasa kita haturkan kepada Allah SWT sebab hingga detik ini limpahan kenikmatan yang kita rasakan tidak ada putus- putusnya. Kenikmatan yang tidak akan pernah kita dapat menghitung dan mencatatnya satu persatu. Shalawat serta salam marilah senantiasa kita haturkan kepada baginda Nabi Muhammad SAW.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillaahil-Hamd.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Sebagaimana yang telah kita pahami, bahwa syariat penyembelihan qurban yang kita laksanakan pada hari raya Iduladha ini terilhami dari peristiwa yang dialami oleh Khalilullah Nabi Ibrahim A.S. dengan putranya Nabi Ismail A.S.. Peristiwa yang menggambarkan dengan agungnya betapa menakjubkan keimanan dan ketaqwaan hamba- hamba Allah SWT yang terpilih itu.
Tidak hanya sang ayah dan sang anak, namun sang ibu juga. Sebab tidak akan ada di zaman sekarang seorang ibu yang sangat menyayangi anaknya merelakan buah hatinya dikurbankan. Peristiwa ini terekam abadi dalam Al-Quran surah ash-Shaaffaat ayat ke 103, salah satunya sebagai berikut,
فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يٰبُنَيَّ اِنِّيْٓ اَرٰى فِى الْمَنَامِ اَنِّيْٓ اَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرٰىۗ قَالَ يٰٓاَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُۖ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰبِرِيْنَ

Maka ketika anak itu sampai (pada umur) sanggup berusaha bersamanya, (Ibrahim) berkata, “Wahai anakku! Sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah bagaimana pendapatmu!” Dia (Ismail) menjawab, “Wahai ayahku! Lakukanlah apa yang diperintahkan (Allah) kepadamu; insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang sabar.”

Kisah agung di atas mengandung ibrah, bahwa Allah swt hendak menunjukkan kepada kita, hamba-hambanya yang lemah imannya, bahwa setiap hamba dapat memaksimalkan keimanan dan ketaqwaan kepada-Nya sehingga menjadi hamba yang “tahan banting”, kuat dan tegar menghadapi apapun ujian yang melandanya, bahkan pada peristiwa yang tampak seperti di luar nalar manusia sekalipun. Peristiwa penyembelihan itu, digambarkan sebagai simbol penyembelihan hawa nafsu dan sifat pembangkangan dalam diri manusia dan menjadikannya manusia yang sepenuhnya taat dan tunduk kepada Rabbnya.

Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa Lillaahil-Hamd.

Kaum Muslimin Rahimakumullah

Saat ini kita semua sedang dihadapkan dengan ujian kehidupan yang relatif sama dan hampir merata pada semua orang. Ujian kehidupan yang datang dari makhluk super kecil ciptaan Allah SWT, yaitu virus Covid-19, yang memaksa kita untuk tersadar, kita adalah makhluk yang lemah tak berdaya di hadapan kekuasaan-Nya. Apapun latar belakang kita, asal kita, profesi kita, semuanya terkena dampaknya, baik besar maupun kecil. Oleh karenanya Hari Raya Idul adha ini dengan kisah keluarga Nabi Ibrahim A. S. di atas sangat tepat untuk kita jadikan momentum penyadaran dan kebangkitan kita, bahwa,
pertama, sebagai seorang yang mengaku beriman kepada Allah SWT, kita tidak terlepas dari ujian dan cobaan. Bahkan justru, semakin tinggi level atau tingkat keimanan kita, maka semakin berat cobaan yang akan kita terima. Dengan kata lain, jika kita ditimpa ujian, semakin berat ujian itu, maka itu berarti Allah SWT sedang menaikkan derajat keimanan kita. Jika kita dapat melewati ujian itu dengan baik maka level keimanan kita benar-benar telah setingkat lebih tinggi untuk nantinya menjadi modal menghadapi ujian-ujian berikutnya. Bukankah saat ini anak-anak kita sudah biasa melalui ujian demi ujian untuk meningkatkan pendidikannnya, dari sekolah dasar sampai perguruan tinggi?Yang setiap jenjangnya akan semakin sulit.

Kedua, semestinya, sebagai hamba dari Allah yang Maha Perkasa, apapun yang terjadi, tidak selayaknya kita berputus asa. Sudah semestinya kita senantiasa berikhtiar sekuat tenaga untuk tetap hidup dengan penuh penghambaan kepada-Nya. Bukankah Rasulullah SAW sudah menggambarkan, sifat seorang mukmin yang sangat mulia? Ia selalu dapat bersikap dengan benar atas apa pun yang dialaminya, baik kenikmatan atau pun ujian. Rasulullah SAW bersabda:
عَنْ صُهَيْبٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ لَهُ خَيْرٌ وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ. رواه مسلم

Dari Shuhaib R.A., ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “sungguh luar biasa perkara seorang mukmin, sesungguhnya perkaranya seluruhnya baik dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh seorangpun melainkan seorang yang beriman, jika ia mendapatkan kebaikan maka ia bersyukur, inilah yang lebih baik baginya dan jika ia mendapatkan keburukan maka ia bersabar, inilah yang lebih baik baginya.” (HR. Muslim)

Ketiga, pandemi Covid-19 ini memberikan pelajaran berharga bagi kita, bahwa memang sudah semestinya keimanan yang kita miliki ini harus dibarengi dengan ilmu yang selalu harus kita gali lebih dalam. Banyak fenomena yang terjadi, seorang hamba yang mendaku beriman kepada Allah SWT namun ia beribadah dengan tanpa ilmu. Tidak memperhatikan protokol kesehatan yang telah ditetapkan untuk menjaga setiap orang agar tetap sehat dan dapat tetap beribadah kepada-Nya. Sehingga dengan kekurangan ilmunya itu, ia tanpa sadar telah membahayakan dirinya juga orang lain.

Oleh sebab itu, benarlah hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Darda berikut ini,
وقال صلى الله عليه وسلم: فَضْلُ العَالِمِ عَلىَ العَابِدِ كَفَضْلِ القَمَرِ لَيْلَةَ البَدْرِ عَلىَ سَائِرِ الكَوَاكِبِ

Artinya: “Keutamaan seorang ahli ilmu terhadap ahli ibadah bagaikan keutamaan rembulan pada malam purnama atas seluruh bintang” (HR. Abu Dawud, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)

Semoga kita dapat melalui ujian besar ini dengan baik sebagai hamba Allah yang ahli ibadah dengan berlandaskan ilmu. Sehingga ujian ini menjadi batu loncatan bagi kita untuk meningkatkan keimanan pada level yang lebih tinggi. Aamiin.

اَللّهُ اَكْبَرْ اَللّهُ اَكْبَرْ اَللّهُ اَكْبَرْ, وَلِلّهِ الحَمْدُ
الحَمْدُ للهِ رَبِّ العَالمِيْنَ أَشْهَدُ اَنْ لآ اِلَهَ اِلاَّ اللّهُ وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّداًرَسُوْلُ الله, اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِيْنَ, بِرَحْمَتِكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ
أَللَّهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا اْلغَلاَءَ وَالْبَلاَءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَلْمُنْكَرَ وَالسُّيُوْفَ اْلمُخْتَلِفَةَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ مَا ضَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ, مِنْ بَلَدِنَاخَآصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ اْلمُسْلِمِيْنَ عَامَّةً, إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرِ.

Ya Allah Yang Maha Agung

Selamatkanlah kami, orang tua kami, anak-anak kami dan saudara-saudara kami umat Islam khususnya dari wabah virus Corona ini.

Jikalau wabah ini merupakan ujian dari ya Allah, maka kuatkanlah iman dan aqidah kami, berikan kesabaran lahir batin agar kami mampu menghadapi musibah ini dengan ikhlas.

Ya Allah, andaikan wabah ini merupakan adzab dari-Mu, maka ampunilah semua kesalahan kami, kekhilafan kami, dan dosa-dosa kami.

Kami sadar ya Allah, masih banyak perintah-Mu yang belum kami kerjakan, masih banyak larangan-larangan-Mu yang belum mampu kami hindari. Untuk itu ya Allah, hanya ampunan dari-Mu yang kami harapkan.

Ya Allah yang Maha Kuasa..

Kami yakin, hanya karena kuasa-Mu semata, yang mampu merubah takdir ini, yang bisa mengangkat dan mengusir wabah ini dari bumi-Mu. Agar kami semua bisa khusyu dan tadarru dalam mengabdi pada-Mu, bisa tafakkur, tadabbur dan tasyakkur dalam hidup ini.

بِسْمِ اللَّهِ الَّذِى لاَ يَضُرُّ مَعَ اسْمِهِ شَىْءٌ فِى الأَرْضِ وَلاَ فِى السَّمَاءِ وَهُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ.
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَجَمِعَا عِبَدَتِنَا يَارَبَّ العَالَمِيْنَ. رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

*Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kecamatan Besuki

Catatan:

  1. Khutbah ini bisa digunakan saat pelaksanaan sholat Idul Adha di rumah bersama keluarga.
  2. Dihimbau untuk melaksanakan sholat Idul Adha di rumah saja.