MEMETIK HIKMAH ATAS MUSIBAH.

Oleh : H. JAUHAR ROFIQ. M.HI (Penyuluh Agama Islam Tulungagung)

Sebagai seorang Muslim, kita harus meyakini bahwa seluruh peristiwa adalah atas kehendak Allah SWT. Seyogianya, kita memetik pelajaran (ibrah) dalam menghadapinya.

“Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu; yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun,” demikian terjemahan dari Alquran surah al-Mulk ayat 1-2.

Ada beberapa cara dalam memetik hikmah musibah. Pertama, sebagai ujian keimanan. Apa pun musibah dan bencana yang menimpa adalah ujian. Itu adalah cara Allah untuk meningkatkan kualitas iman kita. Maka, sebagai seorang Muslim, kita harus menerima apa pun ketentuan-Nya dengan ikhlas dan penuh kesabaran (QS al-Baqarah [2]: 155-157 ).

Kedua, musibah dan bencana adalah sarana introspeksi diri. Bukan bahan penyesalan yang tanpa akhir. Tidak pula kita tenggelam dalam keluh-kesah, apalagi bila sampai berputus asa dari rahmat-Nya. Sudah seharusnya sebagai seorang Muslim, kita memperbanyak istighfar, zikir, dan bertobat kepada-Nya. Rasulullah SAW bersabda: “Barang siapa yang dikehendaki Allah kebaikan pada dirinya, maka Dia akan memberikan cobaan kepadanya.” (HR Bukhari).