Hidup Tenang dengan Husnudzon

Oleh : Mohamad Ansori (Penyuluh Agama Islam Kec. Ngunut)

Salah satu hal penting yang membuat hidup kita indah adalah ketenangan. Orang kaya tidak menjamin hidupnya tenang, orang dengan jabatan tinggi demikian juga adanya. Artinya harta, kedudukan, istri yang cantik atau suami yang tampan, anak yang pintar, dan lain-lain tidak selalu menjadikan hidup kita tenang. Memang, semua hal itu berkontribusi, tapi bukan kontribusi tunggal yang menghasilkan ketenangan dalam hidup kita.

Sebagai makhluk sosial, manusia tidak lepas dari berinteraksi dengan orang lain. Setiap orang memiliki sifat, karakter, dan cara berkomunikasi yang berbeda. Oleh karena itu, kita tidak dapat mengetahui dengan pasti apa maksud sesungguhnya dari apa yang dilakukan oleh orang lain di luar kita. Bisa jadi kita menganggap seseorang melakukan sesuatu dengan tujuan ke barat, padahal sejatinya ia mengarah ke timur. Atau seseorang inginnya menolong, tetapi kita menganggapnya orang tersebut akan membahayakan kita.

Salah satu hal yang membuat kita tenang adalah husnudzon (berbaik sangka). Berbaik sangka adalah berpikir positif (positive thinking) terhadap apa yang dilakukan oleh seseorang. Kita melihat sesuatu dari sisi poitisifnya, bukan sebaliknya. Berbaik sangka kita tujukan pada orang lain, diri sendiri, bahkan kepada Allah Swt.

Berbaik sangka sangat dianjurkan dalam Islam karena beberapa hal, antara lain:

Pertama, berbaik sangka adalah perintah agama. Dalam Al Quran al Karim Allah Swt berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ ۖ وَلَا تَجَسَّسُوا وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا ۚ أَيُحِبُّ أَحَدُكُمْ أَنْ يَأْكُلَ لَحْمَ أَخِيهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوهُ ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ ۚ إِنَّ اللَّهَ تَوَّابٌ رَحِيمٌ

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan purba-sangka (kecurigaan), karena sebagian dari purba-sangka itu dosa. Dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.

Berdasarkan ayat di atas, Allah Swt melarang kita berburuk sangka, dalam artian kita harus berbaik sangka. Allah juga melarang kita mencari-cari keburukan orang lain. Bukankah setiap kita memiliki sisi baik dan sisi buruk? Mengapa harus memikirkan keburukan orang lain? Bukankah lebih baik memikirkan kebaikan orang lain?

Larangan berburuk sangka tidak hanya kepada manusia. Kita juga dianjurkan berbaik sangka kepada Allah Swt. Nabi Muhamamad Saw bersabda, “Janganlah seorang di antara kalian meninggal kecuali dia telah berbaik sangka kepada Allah” (HR. Muslim). Dalam hadist yang lain, Nabi Muhammad Saw bersabda : “Sesungguhnya berprasangka baik pada Allah adalah termasuk sebaik-baiknya ibadah.” (HR Abu Daud).

Kedua, meningkatkan amal baik kita. Hasan Al-Bashri ra mengatakan bahwa, “Sesungguhnya seorang mukmin ketika berbaik sangka kepada Tuhannya, maka ia akan memperbaiki amalnya. Sementara orang buruk, dia berprasangka buruk kepada Tuhannya, sehingga ia melakukan amal keburukan.” (HR Ahmad).

Berbaik sangka kepada Allah Swt akan meningkatkan motivasi kita untuk berbuat baik. Kita akan selalu ingin mendekat dan mendekat. Tentunya, dengan cara meningkatkan amal ibadah kita kepada Allah Swt. Dengan semakin dekatnya kita kepada Allah Swt, maka akan meningkatkan keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Swt juga.

Ketiga, dengan berbaik sangka kita akan dijauhkan dari keburukan di akhirat. Dari Fadhalah bin Abid, dari Rasulullah, ia bersabda, “Ada tiga golongan manusia yang tidak akan ditanya di hari kiamat yaitu, manusia yang mencabut selendang Allah. Sesungguhnya selendang Allah adalah kesombongan dan kainnya adalah al-Izzah (keperkasaan), manusia yang meragukan perintah Allah, dan manusia yang putus harapan dari rahmat Allah.” (HR Ahmad, Thabrani dan Al-Bazaar)

Berbaik sangka kepada Allah Swt akan meningkatkan pengharapan kita kepada Allah Swt. Semakin tinggi harapan kita kepada Allah Swt, semakin dekat kita kepada-Nya, dan semakin banyak rahmat yang diturunkan Allah Swt kepada kita. Sebab, semakin tinggi ketergantungan kita kepada Allah Swt menunjukkan betapa semaki kuatknya pengakuan kita akan keperkasaan dan kemahakuasaan Allah Swt.

Berbaik sangka membuat hidup kita tenang. Mengapa? Karena kita akan semakin dekat dengan Allah, semakin menggantungkan kehidupan kita kepada Allah, dan semakin meningkatkan pengakuan kita akan peran utama Allah dalam kehidupan kita. Dengan berbaik sangka kita akan senantiasa memiliki harapan kepada Allah Swt.

Allah tidak akan meninggalkan hambanya. Dimana saja, kapan saja, siapa saja, asalkan mendekat pada Allah Swt, maka Allah Swt juga akan mendekatinya.

Dalam sebuah renungan, Prof. Dr. Quraish Shihab mengatakan bahwa Allah berfirman dalam sebuah hadist qudsi:

“Aku menyesuaikan diri dengan sangka hamba-Ku terhadap Ku. Dan Aku bersamanya ketika ia mengingat Ku. Apabila ia mengingat-Ku dalam hatinya, Ku ingat dia dalam hati-Ku. Kalau dia mengingat-Ku dan menyebut-nyebut Ku di depan umum, maka Ku ingat dan Ku sebut-sebut dia di khalayak yang lebih baik. Siapa yang mendekat kepada-Ku sejengkal, Aku mendekat kepadanya sehasta. Dan siapa yang mendekat sehasta, Aku akan mendekat kepadanya sedepak. Dan siapa yang datang kepada Ku dengan berjalan, Aku datang menyambutnya dengan berlari”.

Wallahu’alam.