Menjaga Malu

Oleh : Suyitno (Penyuluh Agama Islam Tulungagung)

Sifat malu merupakan salah satu dari ajaran Nabi Muhamamad, yang saat ini mulai mengendur, luntur dalam prilaku kehidupan bermasyarakat dan bernegara,  seseorang yang sudah tidak memilki rasa malu maka akan melakukan apa saja yang di kehendaki, misalnya  berzina, mengkonsumsi minuman keras dan narkoba, melakukan berbagai bentuk penipuan, pembunuhan, tidak peduli apakah korbannya berdosa apa tidak, tega merampas harta orang fakir, miskin tanpa belas kasih, hatinya membatu tidak ada rasa iba terhadap penderitaan. Bahkan ada sebagian perbuatan dosa yang sudah dianggap biasa oleh masyarakat, misalnya seorang laki-laki dan perempuan, bukan muhrim bukan suami istri,  berduaan, bermesraan ditempat umum, perempuan berpakaian mini, serba ketat, mengibah dan sebagainya, yang melakukanya bukan orang bodoh yang tidak memiliki ilmu pengetahuan, tetapi hilangnya rasa malu pada diri mereka.

Sangat penting bagi setiap muslim untuk mempertahankan, memelihara sifat malu, baik dikantor, lingkungan masyarakat, keluarga dan dimanapun berada, karena sifat malu dapat memelihara serta menjaga dan menunjukkan keimanan seseorang. Sifat malu merupakan keengganan seseorang untuk berbuat tidak baik yang sebagai akibatnya merasa berdosa, bila mendapatkan hujatan, celaan dari masyarakat terhadap dirinya.

Menurut Imam Al-Qusyairi rasa malu dilatarbelakangi oleh banyak hal antara lain,  Haya’jinayah, yaitu malu disebabkan  mempunyai rasa salah, sebagaimana rasa malu Nabi Adam a.s. ketika beliau berlari dalam surga. Allah bertanya kepada adam”apakah kamu berlari karena menghindar dari-Ku wahai Adam? Adam menjawab, tidak, wahai Tuhanku, tapi karena merasa malu kepada-MU,

Haya’taqshir, yaitu malu yang diakibatkan keteledoran sebagaimana rasa malu para malaikat yang senantiasa bertasbih siang dan malam tidak mengenal lelah, pada hari kiamat nanti mereka berkata kepada Allah “ Maha suci Engkau Ya Allah”. Kami tak bisa mengabdi kepada-MU dengan sebaik-baik pengabdian” Haya’ ijlal, yaitu rasa malu karena pengagungan dan ini dimulai dari makrifat kepada Allah,semakin bertambah makrifat hamba kepada Allah, maka semakin bertambah pula rasa malu  kepada Allah.  Haya’ istiqar, yaitu rasa malu yang dimiliki oleh seseorang yang merasa rendah diri, sebagaimana seorang budak malu meminta segala kebutuhan kepada tuannya karena dia merasa hina.

 Haya’ Mahabbah, yaitu malunya seorang pecinta kepada orang yang dicintainya. Bila terlintas bayangan sang kekasih segera rasa malu akan muncul dalam hati yang kemudian tersalurkan di wajah tapi dia tidak tahu apa sebab dari semuanya. Atau rasa malu itu muncul ketika terjadi pertemuan dan percakapan.

Haya’ ubudiyayah. Malu ini adalah kumpulan dari segala rasa cinta dan rasa takut yang dibarengi dengan perasaan akan suatu keteledoran seorang penyembah kepada yang ia sembah,akhirnya rasa rendah dihadapan Sang Pencipta itu akan memunculkan perasaan malu dalam hati si penyembah.

Haya’ syaraf dan harga diri, yaitu rasa malu yang ditunjukkan oleh pribadi-pribadi yang berbudi agung ketika melihat dirinya tidak bisa melakukan hal yang sesuai dengan pangkat dan derajat yang dia miliki. Rasanya kebaikan atau kedermawanan yang dia berikan kepada orang terasa kurang sempurna dan kurang maksimal, karena inilah dia merasa malu. Rasa malu seorang mukmin sejati dengan melihat dirinya senantiasa teledor akan hak dan kewajiban dia terhadap Tuhannya. Karena ituah, dia rela dengan derajat rendah dan sama sekali tidak berpikir bahkan tidak merasa pantas menempati kedudukan tinggi di sisi Tuhannya meski dia orang yang senantiasa taat kepada-Nya.

Haya’ in’am, yaitu rasa malu Allah kepada hamba-Nya dan tentunya kita harus menjaga hati kita dengan tetap beritikad bahwa Allah tidak serupa dengan segala yang baru, meski Allah punya rasa malu tetapi rasa malu itu tidak sama dengan rasa malu yang dimiliki hamba-Nya. Rasa malu Allah terhadap hamba-Nya adalah karena Allah senantiasa berbuat baik dan memberikan segala kedermawanan kepada hamba-Nya.

 Allah malu kepada hamba ketika tangan hamba itu menengadah dan memohon kepada-Nya kemudian membiarkan tangan itu kembali dengan hampa. Allah juga malu memberikan siksa di neraka kepada seorang hamba yang beruban di waktu dia memeluk Islam, diceritakan bahwa pada saat hari kiamat, setelah melintasi shirat, Allah memberikan catatan-catatan amal kepada seorang hamba, ditulis dalam catatan itu bahwa hamba itu melakukan ini dan itu, tetapi Allah malu mengungkapkannya, akhirnya Allah mengampuni hamba itu dan memerintahkannya masuk ke dalam surga. Sebagai seorang muslim sifat malu perlu untuk di wujudkan dalam praktik kehidupan saben hari, dengan sifat malu, merasa menyesal apa bila tidak bisa melakukan kebaikan.