Jaran Goyang

Oleh : Tri Prasetiyo Utomo (Penyuluh Agama Islam Kedungwaru)

Jaran goyang, demikian kira-kira fenomena lagu yg sedang menjadi trending topik di akhir 2017 dan awal 2018. Trend musik di tanah air terus berkembang sejalan dengah arus dinamika sosial dan pergeseran paradigma masyarakat dalam memahami dan memandang kehidupan.

Kalau zaman dahulu, lagu yang dilantunkan perempuan cenderung pasrah dengan keadaan, tertindas, hidup seperti di sangkar emas, semisal pulangkan saja aku pada ibuku atau ayahku (Betaria Sonata) paradigma sekarang bergeser sebaliknya. Trend musik sekarang, perempuan lebih berani dan percaya diri, semisal; nggak zaman punya pacar cuma satu, lelaki buaya darat busyet aku tertipu laki, lelaki cadangan, jaran goyang, dan seterusnya. Tanpa mengurangi rasa hormat terhadap perempuan, sepenggal lagu trend di atas akan mempengaruhi mindse, paradigma, dan cara pandang wanita ke-Indonesia-an saat ini.

Jaran goyang menjadi lagu trend saat ini. Konten yang menceritakan kisah asmara kemudian di balut dengan jimat jaran goyang untuk memuluskan kisah asmaranya. Konten asmara (cinta) memang memiliki daya tarik tersendiri dalam setiap syair lagu. Maka, tidak heran apabila ratusan lagu yang banyak didendangkan selalu bertajuk cinta dan asmara.

Senada dengan sebagian syair yang ditulis oleh Jalalludin Rumi, yaitu komunikasi dalam cinta: komunikasi paling rahasia (2000:86), Kata-kata bagaikan pengantin perempuan, pahamilah dengan cinta (2000:170). Syair-syair tersebut diantaranya menceritakan kekasih. Kekasih adalah kebaikan, karena seorang pecinta memperoleh kekuatan dan kehidupan dari citra kekasihnya (2000:181).

Dalam konteks itulah kira-kira pemahaman penulis sampai saat ini terkait jaran goyang. Jaran goyang merupakan judul syair lagu yang di dendangkan agar memikat para pendengarnya melalui citra syairnya.
Jaran memiliki padanan kata dalam bahasa Indonesia kuda. Kuda merupakan binatang piaraan manusia yang berfungsi sebagai tunggangan, simbol kekuatan, dan kekayaan bagi pemiliknya.

Sedangkan dalam alquran kuda di lambangkan sebagai tungganngan prajurit pilihan Rasul yang berlari kencang terengah-engah. Memercikan bunga api dengan pukulan kuku kukunya. Menyerang secara tiba tiba di pagi hari. Menerbangkan debu, menyerbu ke tengah tengah musuh yang merasa kuat (surah al-Adiyat:1-5).

Kata العا ديات al-‘adiyat terambil dari akar kata عدا-يعدو ‘ada-ya’du yang memiliki arti jauh atau melampaui batas. Dari akar kata tersebut membentuk aneka ragam makna, tetapi kebanyakan bermuara pada makna jauh. Misalkan عدو ‘aduw/musuh karena seseorang yang bermusuhan berjauhan hati, pikiran, dan fisiknya. Sedangkan العدو al-adw/berlari cepat disebabkan kecepatannya, maka dapat menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang relatif lebih singkat dibanding langkah-langkah biasa.

M. Quraish Shihab (2002:544) kata العا ديات al-‘adiyat secara harfiah berarti yang berlari kencang, menurut sebagian mufasirin kata ini tidak menjelaskan apa atau siapa yang melakukannya. Tetapi banyak argument yang menunjukan bahwasanya itu adalah kuda yang berlari kencang. Jadi, kecepatan dalam berlari yang dimiliki oleh kuda dapat bermanfaat untuk menempuh jarak yang jauh menjadi relatif singkat. Konsep kecepatan/beralari cepat bila di korelasikan dengan jaran goyang bermakna, kekuatan dan kehidupan yang digunakan oleh seorang pecinta dari citra kekasihnya (berlari dengan cepat melebihi manusia pada umumnya).

Kuda adalah tunggangan yang bisa mengantarkan pemiliknya sampai tujuan. Melalui tunggangan itulah manusia dapat bepergian kemana saja yang inginkan. Namun yg perlu di perhatikan dalam setiap perjalan ada rambu rambu yg berfungsi mengatur dan mengarahkan pengendara di jalan raya. Bila rambu rambu tersebut ditaati tentunya perjalanan akan lancar, aman, tertib, dan sampai tujuan tepat pada waktunya. Kuda adalah media untuk mengantarkan pemiliknya ke arah tujuan yang dikehendaki, baik berupa jalan maksiat maupun jalan yg penuh nikmat.

Di tinjau dari sifatnya, kuda memiliki kekuatan lari yg sangat kencang dibanding binatang lainnya. Sifat demikian yang menjadi pertimbangan mengapa kuda dipilih sebagai tunggangan manusia yg baik dan tepat untuk proses perjalanan. Bahkan tatkala belari dengan sekuat tenaganya, kuda sampai memercikan bunga api melaui hentakan kakinya yg begitu kuat. Itulah sebagian kecil keunggulan kuda. Kuda akan selalu taat dan patuh kepada pemiliknya, walaupun diajak untuk bermaksiat.

Catatan dari fenomena jaran goyang atau kuda dengan percikan api ketika berlari adalah; manusia akan lebih mudah mencapai tujuanya apabila menggunakan media yang tepat (kuda) kemudian waktu penggunaanya pagi hari -sepertiga malam. Hal itu dilukiskan laksana seorang hamba yang berdoa pada waktu sepertiga malam seperti busur panah yang melesat dengan kencangnya tepat pada sasaran. Siapapun yg merintangi jalanya seseorang tatkala dalam keadaan demikian, niscaya akan ketakutan -laksana melihat kuda berlari kencang yang menerbangkan debu di sekitarnya- musuh musuh akan lari dan bertekuk lutut tatkala tertangkap.

Pergeseran paradigma manusia yg terus berubah dan berkembang ke arah yg lebih baik dan berani merubah tatanan sosial yang dulu tabu menjadi sesuatu yang wajar dan layak untuk diperbincangkan. Jaran goyang dahulu hanya dipahami sebagai jimat yg bersifat sakral dan keramat sekarang sudah di dendangkan dimana-mana dan dinikmati lintas kalangan. Jaran goyang dahulu adalah jimat supranatural metafisik, namun sejalan dengan pergeseran paradigma manusia. Jaran goyang dipahami sebagai media pengantar tujuan manusi yang tepat dan cepat (efektif dan efisien) melalui ilmu, amal, dan doa di tengah malam.

Perumpamaan manusia yang bangun sepertiga malam untuk mengetuk pintu langit diabadikan dalam alquran surat muzammil, yaitu; Artinya: Hai orang yang berselimut, bangkitlah di malam hari, kecuali sedikit, seperduanya atau kurangilah dari itu sedikit, atau lebihkan atasnya. Dan bacalah alquran dengan perlahan-lahan (Surah muzzammil 1-4).

Menurut Biaqa’I dalam M. Quraish Shihab (2002:400), ayat ini berisikan tentang; bahwa amal-amal kebajikan menampik rasa takut dan menolak mara bahaya, ia dapat meringankan beban, khususnya apabila amal kebajikan berupa kehadiran kepada Allah serta berkonsentrasi mengabdi kepada-Nya pada kegelapan malam (qiyamul lail dan baca alquran).

Wallahua’alam bi showab