AMALAN PENGHUNI SURGA

Oleh : Tri Prasetiyo Utomo, M.Pd.I (Penyuluh Agama Islam Non-PNS Kedungwaru)

أُولَٰئِكَ أَصْحَابُ الْجَنَّةِ خَالِدِينَ فِيهَا جَزَاءً بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya: Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya; sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan. (Q.S. Al-Ahqaf/46;14).

Tujuan hidup setiap manusia pastinya adalah kebahagiaan. Kebahagiaan yang dijanjikan Tuhan di fase kehidupan akhirat adalah surga. Surga adalah alam akhirat yang membahagiakan ruh manusia yang hendak tinggal di dalamnya. Hal ini tentunya selaras dengan informasi yang termaktub dalam alquran, yaitu;

وَبَشِّرِ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ أَنَّ لَهُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِنْ تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ ۖ كُلَّمَا رُزِقُوا مِنْهَا مِنْ ثَمَرَةٍ رِزْقًا ۙ قَالُوا هَٰذَا الَّذِي رُزِقْنَا مِنْ قَبْلُ ۖ وَأُتُوا بِهِ مُتَشَابِهًا ۖ وَلَهُمْ فِيهَا أَزْوَاجٌ مُطَهَّرَةٌ ۖ وَهُمْ فِيهَا خَالِدُونَ

Artinya : Dan sampaikanlah berita gembira kepada mereka yang beriman dan beramal saleh, bahwa bagi mereka surga-surga yang mengalir sungai-sungai di sekelilingnya. Setiap mereka diberi rezeki berupa buah-buahan dari surga-surga itu, mereka mengatakan, inilah yang pernah diberikan kepada kami dahulu. Mereka diberi buah-buahan yang serupa dan untuk mereka di dalamnya ada (juga) pasangan-pasangan yang suci, dan mereka kekal di dalamnya.  Surat al-Baqarah/2:25.

Bila dicermati ayat di atas merupakan, perintah kepada Nabi Muhammad saw untuk menyampaikan kabar gembira kepada merka yang benar-benar beriman dengan tulus terhadap semua unsur keimanan dan membuktikan kebenaran imannya dengan amal saleh. Amal adalah segala hasil penggunaan daya manusai, meliputi daya tubuh, daya pikir, daya kalbu, dan daya hidup.[1] Daya-daya tersebut bila digunakan dalam kebaikan (amal saleh) yakni bermanfaat dan disertai dengan iman yang benar dari pelakunya maka yang bersangkutan disebut beramal saleh (taat dan sungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah, suci dalam niatan dan beriman). Jadi, kabar gembira merupakan pesan yang disampaikan Tuhan kepada mereka yang beramal kebajikan (saleh)  berupa surga. Surga dengan berbagai fasilitasnya berupa buah-buahan, pasangan-pasangan hidup yang suci (dari sifat dengki, cemburu, bohong, culas, dan khianat), dan kekal di dalamnya.

Surga memang begitu menyenangkan, membahagiakan, dan menyejukan terhadap siapa saja yang mendengarnya. Lantas amalan saleh apa saja yang bisa dijadikan media atau sarana manusia dapat mencapai derajat surga tersebut. Berikut akan disampaikan sebuah hikayat atau kisah  amal saleh yang berimplikasi pada derajat surga terhadap pelakunya;

Suatu ketika nabi Muhammad saw duduk di masjid dan berbincang-bincang dengan sahabatnya. Tiba-tiba beliau bersabda: sebentar lagi penghuni surga akan masuk kemari.  Seketika semua mata tertuju ke pintu masjid dan berpikir serta membayangkan pastinya orang yang sungguh luar biasa, penghuni surga-penghuni surga, demikian gumam para sahabat.

Beberapa saat kemudian masuklah seseorang dengan air wudhu yang masih membasahi wajahnya dan dengan tangan menjinjing alas kaki. Dalam benak para sahabat bertanya-tanya, apa gerangan keistimewaan orang itu sehingga mendapat jaminan surga? tidak seorangpun berani bertanya walaupun seluruh hadirin merindukan jawaban tersebut. Keesokan harinya peristiwa tersebut terulang kembali, yaitu ucapan nabi dan si Penghuni Surga. Keadaan yang sama semuanya terulang, bahkan dipertegas kembali hari ketiga terjadi hal yang serupa, yaitu nabi menyampaikan sebentar lagi seorang penghuni surga akan masuk kemari.

Melihat kejadian tersebut Abdullah Ibn ‘Amr tidak tahan lagi dan berusaha ingin mengetahui secara detail amalan apakah yang dilakukan pemuda tersebut sehingga mendapat gelar penghuni surga. Abdullah Ibn ‘Amr mendatangi penghuni surga sambil berkata; Saudara, telah terjadi kesalahpahaman antara aku dan orangtuaku, dapatkah aku menumpang di rumah Anda (penghuni surga) selama tiga hari? Tentu, tentu… jawab penghuni surga. Tujuan utama Abdullah Ibn ‘Amr adalah ingin mengetahui secara langsung amalan si penghuni surga.

Tiga hari tiga malam berlalu Abdullah Ibn ‘Amr memerhatikan, mengamati, dan mengintip penghuni surga, tetapi tidak sesuatu pun yang istimewa dari amalanya. Tidak ada ibadah khusus yang menjadi amaliah penghuni surga. Tidak ada sholat malam, tidak pula puasa sunah. Ia (penghuni surga) bahkan tidur dengan nyenyaknya hingga beberapa saat sebelum fajar. Memang sesekali terbangun dan ketika itu terdengar ia menyebut nama Allah di pembaringannya, tetapi hanya sejenak dan tidurnya dilanjut kembali.

Pada siang hari ia (penghuni surga) bekerja dengan tekun ke pasar, sebagaimana halnya orang yang bekerja di pasar. Abdullah Ibn ‘Amr semakin penasaran dan sudah tidak tahan lagi ingin berterus terang kepada penghuni surga. Kemudian dia bertanya; Apakah yang Anda perbuat (amal saleh) sehingga mendapat gelar atau jaminan penghuni surga ?

Apa yang Anda lihat itulah! jawab penghuni surga. Dengan perasaan kecewa Abdullah Ibn ‘Amr hendak kembali ke rumah, tetapi tiba-tiba tangannya dipegang oleh penghuni surga seraya berkata; Apa yang Anda lihat itulah yang saya lakukan, ditambah sedikit lagi, yaitu saya tidak pernah merasa iri hati terhadap seseorang yang dianugerahi nikmat oleh Allah. Tidak pernah pula saya melakukan penipuan dalam segala aktivitas saya.

Sambil menundukkan kepala Abdullah Ibn ‘Amr meninggalkan penghuni surga, sambil berbicara dalam hati; rupanya, yang demikian itulah gelar penghuni surga Anda dapatkan. Jadi, berbekal tidak pernah iri hati terhadap nikmat yang diberikan Allah kepada orang lain dan kejujuran dalam setiap aktivitas, menjadi kata kunci untuk mendapat derajat surganya Allah swt. Kisah di atas disadur dari buku Faidh-Al-Nubuwah dalam M. Quraish Shihab lentera alquran kisah dan hikmah kehidupan.

Wallahua’lam bi showab.


[1] M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an, Vol. 1, 156.Day

Note : Disampaikan sebagai Khutbah Jum’at di Masjid Lapas Kelas III Tulungagung, pada hari Jum’at, 11 September 2020