Mengubah Perspektif terhadap Pemabuk dari Riwayat Abu Nawas


Oleh : Iqlal Alifien

Tidak dapat dipungkiri bahwa dalam perspektif sebagian besar masyarakat umum terhadap seorang pemabuk, pengguna narkoba atau bahkan pengidap HIV AIDS terlihat begitu hina, sehingga masyarakat enggan dan tak sudi bergaul dengan mereka. Sikap judgemental tersebut hendaknya dihindari karena bagaimanapun setiap manusia adalah makhluk Allah SWT.

Imam Syafi’i pernah mengatakan “Sebisa mungkin kita harus tidak suka akan perbuatan yang salah namun janganlah tidak suka kepada pelaku kesalahan”, dan dipertegas lagi dengan kalimat “Kita harus benci atas perbuatan maksiat tetapi tidak boleh benci kepada pelaku maksiat”.

Dalam buku Kisah 1001 Malam yang tersohor itu, nama Abu Nawas terkenal sebagai seorang yang cerdik, jenius tapi sinis serta humoris. Akan tetapi jika menilik lebih jauh lagi tentang riwayat hidupnya mulai dari Abu Nawas muda yang disamping ahlul quran ternyata juga seorang pujangga besar. Abu Nawas muda tak elaknya anak muda pada umumnya, menganggap hidup hanya kesenangan belaka, mabuk-mabukan sudah menjadi kesehariannya. Meskipun begitu, Abu Nawas masih terampil dalam menciptakan syair dan puisi bahkan karena menjadi seorang pemabuk, Abu Nawas dijuluki Sang Penyair Mabuk, pun karyanya terkenal sebagai Syair Al Khamriyyat hingga saat ini.

Singkat cerita, setelah melalui perjalanan hidupnya, Abu Nawas mengalami masa pertaubatan yang luar biasa. Bahkan al-i’tiraf, syair pertaubatannya (illahi lastu lir firdausi ahla…) hingga hari ini masih dilantunkan oleh umat islam di penjuru dunia.

Dari kisah Abu Nawas di atas, bisa disimpulkan bahwa entah seorang pemabuk, pengguna narkoba dan pengidap HIV AIDS pun masih diberi kesempatan untuk memohon ampun oleh Allah yang Maha Pengampun lagi Maha Pemberi Taubat. Jika Allah saja mau mengampuni, siapalah manusia yang berani men-judge orang lain (pemabuk dsb) lebih rendah darinya. Justru, sesama manusia harus saling mengingatkan, menyayangi juga menjadi “rumah” bagi orang-orang yang mungkin masih belum mendapatkan hidayah.

Sebuah kutipan yang sering didengar dari Gus Miftah “Saat ada orang alim hormatilah! Tetapi ketika melihat ahli maksiat, sayangilah, rangkullah. Mereka tak butuh dihina, tapi butuh dirangkul. Karena dakwah itu merangkul, bukan memukul. Dakwah itu mengajak bukan mengejek”.
Sebuah kalimat pegangan untuk umat islam, khususnya Penyuluh Agama Islam.

*) Penulis adalah PAI Non-PNS Bidang Narkoba & HIV AIDS