Istiqomah Puasa Senin dan Kamis

Oleh : Dr. Suyitno, M.Pd.I *)

Pada saat ini dunia dibanjiri dengan makanan, minuman dan camilan yang serba instan. Iklan di media masa memasarkan dan menayangkan produk-produk makanan baru secara massif kepada konsumen, tetapi kita luput bahwa semuanya itu akan membuat hidup menjad instan juga. Asupan yang serba instan tersebut ternyata berakibat buruk kepada tubuh. Didalamnya terdapat zat-zat yang tidak dibutuhkan oleh tubuh dan bisa menjadi penyebab timbulnya berbagai macam penyakit, seperti zat pewarna buatan, pemanis buatan, merkuri, arsenic, pengawet, nitrat, dan sebagainya.

Adanya zat-zat berbahaya dalam makanan instan yang kita konsumsi, menyisakan racun dan menyebabkan timbulnya penyakit. Oleh karena itu kita membutuhkan hal-hal khusus yang dapat membersihkan tubuh dari zat-zat berbahaya. Puasa menjadi pembersih tubuh segala macam penyakit dan racun-racun yang terdapat di tubuh manusia. Dengan puasa tubuh manusia diistirahatkan sehingga daya kekebalan tubuh dapat membersihkan tubuh dari zat-zat yang tidak bermanfaat.

Mayoritas Muslim umumnya sudah banyak mengetahui manfaat puasa Ramadhan. Hampir setiap malam selama 30 hari, para penceramah mengisi mimbar-mimbar untuk menyampaikan substansi, kualitas, dan manfaat Ramadhan. Puasa Ramadhan dilaksanakan oleh kaum muslimin dengan suka cita karena mengharap manfaat dan pahala yang besar dari menjalankan ibadah puasa.

Banyak dari kaum muslimin, yang melanjutkan puasa Ramadhan dengan puasa sunnah. Dalam syariat Islam, terdapat banyak macam puasa sunnah yang juga besar pahalanya serta sangat bermanfaat bagi kesehatan tubuh. Puasa Senin-Kamis, syawal, tarwiyah, arofah, ayyamul bidh, dan puasa Dawud, merupakan puasa-puasa sunnah yang dapat dilakukan untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah Swt.

Puasa sebagai bukti bahwa seseorang cinta kepada Allah Swt, dan Rasul-Nya. Oleh karena itu, dalam menjalankan ibadah puasa, umat Muslim tidak hanya melakukan puasa wajib, tetapi juga puasa sunnah. Orang yang cinta kepada Allah Swt dan Rasul-Nya, pasti akan melakukan apa yang diperintah dan apa yang dilarang. Begitu juga dengan puasa. Puasa merupakan manifestasi cinta seorang hamba kepada Tuhannya, yang memilik banyak keutamaan. Dari Abu Hurairah, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ. وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ

Artinya : “Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.”” (HR. Muslim no. 1151)

Dalam riwayat lain disebutkan:


قَالَ اللَّهُ كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلاَّ الصِّيَامَ ، فَإِنَّهُ لِى

Artinya : “Allah Ta’ala berfirman (yang artinya), “Setiap amalan manusia adalah untuknya kecuali puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku”.” (HR. Bukhari no. 1904)

Dalam riwayat Ahmad dikatakan:

قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ كُلُّ الْعَمَلِ كَفَّارَةٌ إِلاَّ الصَّوْمَ وَالصَّوْمُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ

Artinya : “Allah ‘azza wa jalla berfirman (yang artinya), “Setiap amalan adalah sebagai kafaroh/tebusan kecuali amalan puasa. Amalan puasa adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya”.” (HR. Ahmad.)

Dari Abu Qotadah Al Anshori radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya mengenai puasa pada hari Senin, lantas beliau menjawab:


ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

Artinya : “Hari tersebut adalah hari aku dilahirkan, hari aku diutus atau diturunkannya wahyu untukku.”


Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:


تُعْرَضُ الأَعْمَالُ يَوْمَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ فَأُحِبُّ أَنْ يُعْرَضَ عَمَلِى وَأَنَا صَائِمٌ

Artinya :“Berbagai amalan dihadapkan (pada Allah) pada hari Senin dan Kamis, maka aku suka jika amalanku dihadapkan sedangkan aku sedang berpuasa.”

Dari ‘Aisyah, beliau mengatakan:


إِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَتَحَرَّى صِيَامَ الاِثْنَيْنِ وَالْخَمِيسِ.

Artinya : “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa menaruh pilihan berpuasa pada hari senin dan kamis”.


Adapun bacaan niat puasa Senin Kamis sebagai berikut.

نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ اْلاِثْنَيْنِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Artinya: “Saya niat puasa hari Senin, sunnah karena Allah ta’ala,


نَوَيْتُ صَوْمَ يَوْمَ الْخَمِيْسِ سُنَّةً ِللهِ تَعَالَى

Artinya:”Saya niat puasa hari Kamis, sunnah karena Allah ta’ala,”
Manfaat Puasa Senin Kamis

Secara medis, puasa Senin Kamis terbukti membantu kesehatan pencernaan. Sedangkan secara psikologis, manfaat puasa juga mampu menjaga emosi lebih stabil tidak mudah marah dan tidak mudah depresi. Puasa senin kamis menjadikan tubuh lebih sehat baik fisik maupun mental sebagai perisai untuk kejiwaan yang besar bagi kondisi kejiwaan seseorang. Puasa senin kamis dapat membantu dalam melatih kesabaran, menguasai diri, dalam meredam hawa nafsu, serta dapat meningkatkan kemauan untuk melaksanakan kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kualitas ketaqwaan kepada Allah SWT.

Puasa Senin-Kamis dapat mengatasi kecanduan menghentikan kebiasaan yang kurang baik. Contohnya saja terlalu banyak mengonsumsi kafein, gula atau makanan-makanan manis jika berpuasa, konsumsi makanan atau minuman tersebut menjadi berkurang. Puasa senin kamis dapat melatih seseorang untuk selalu disiplin dalam segala hal, merasa Allah SWT selalu mengawasi setiap tindakan, sehingga selalu mawas diri dan menghindari segala hal yang dapat menimbulkan dosa dan dapat membatalkan puasa, meminimalkan pengaruh-pengaruh syaitan pada manusia untuk berbuat maksiat yang dilarang oleh Allah SWT.

Wallahu’alam.

*) Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Kabupaten Tulungagung.