Satu Sudut Hikmah Hijrah

Oleh : Mohamad Ansori *)

Peristiwa hijrah Nabi Muhamamd Saw beserta para sahabatnya dari kota Mekah ke kota Yastrib (yang kemudian dikenal dengan nama kota Madinah), merupakan peristiwa besar dan bersejarah dalam Islam. Peristiwa hijrah tersebut terjadi pada tanggal 17 Juni sampai 2 Juli 622 M, pada saat usia Nabi Muhammad Saw 51 tahun. Artinya, peristiwa hijrah terjadi setalah 11 tahun Nabi Muhammad Saw diangkat menjadi Nabi dan Rasul oleh Allah Swt.

Sebagai sebuah tindakan, hijrah dilakukan dengan berbagai motivasi. Oleh karena itu, Nabi Muhammad Saw menegaskan bahwa hijrah harus dilakukan dengan niat yang benar, yaitu karena Allah Swt. Nabi Muhammad menegaskan bahwa niat sangat menentukan hasil dari seuatu perbuatan. Beliau bersabda :

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ


“Semua perbuatan tergantung niatnya, dan (balasan) bagi tiap-tiap orang (tergantung) apa yang diniatkan; Barangsiapa niat hijrahnya karena dunia yang ingin digapainya atau karena seorang perempuan yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya adalah kepada apa dia diniatkan”

Hijrah dilatarbelakangi semakin terdesaknya Nabi dan para sahabatnya. Tidak saja dakwah yang dihalangi, tetapi ancaman-ancaman fisik telah dilakukan. Bahkan kafir Quraish telah merencanakan pembunuhan pada Nabi Muhammad Saw. Pasukan kafir Quraish mengepung semua sudut rumah Nabi Muhammad Saw dengan ketat sehingga akan sulit bagi beliau untuk meninggalkan rumah malam itu.

Namun Allah Swt memberikan pertolongan. Semua mata kafir Quraish seolah tertutup sehingga tidak mengetahui ketika Nabi meninggalkan rumah dan menyuruh Ali bin Abi Thalib menggantikannya di tempat tidur. Ketika pagi tiba dan kafir Quraish menyerang masuk ke rumah Nabi, beliau telah pergi tinggal Ali bin Abi Thalib yang tidur di tempat berselimutkan selimut Nabi Muhammad Saw.

Dari peristiwa ini saja, kita dapat menggali beberapa hikmah di dalamnya. Pertama, bahwa ketika pertolongan Allah Swt datang, maka tidak ada kekuatan lain yang dapat menghalanginya. Keimanan kita pada Allah Swt sangat menentukan, sedekat apa pertolongan Allah pada kita. Keimanan merupakan modal dasar bagi setiap muslim untuk mendekat pada Allah Swt dan mendapatkan pertolongannya.

Dalam konteks Pandemi Covid 19 saat ini, keimanan inilah yang perlu kita bangun dan kita kuatkan. Selama ini kita hanya berpikir mencari obat dan vaksin, dan meletakkan pertolongan Allah di nomer yang ke-sekian. Padahal, dalam situasi dan kondisi apapun, ketika pertolongan Allah Swt itu datang, maka tidak ada kekuatan apapun yang dapat menghalanginya. Obat dan vaksin corona merupakan salah satu iktiar kita, sementara ketentuan akhirnya akan seperti apa, tetap berada di dalam kekuasaan Allah Swt.

Kedua, makna hidup. Ketika Nabi Muhamad Saw berangkat ke Madinah, beliau berpesan kepada Ali bin Abi Thalib agar menggantikan tidur di pembaringan beliau, sambil berselimut dengan selimut beliau guna mengelabuhi kafir Quraish. Dengan kesediaan ini, Ali bin Abi Thalib pada hakikatnya mempertaruhkan jiwa dan raganya demi membela agama Allah Swt. Betapa tidak, ia seolah-olah menggantikan orang yang akan dibunuh “bersama-sama” oleh kaum kafir Makkah.

Apa pelajarannya? Prof. Dr. Quraish Shihab dalam buku Membumikan Al Qur’an mengatakan: “Hidup bukan sekedar menarik dan menghembuskan nafas. Ada orang-orang yang telah terkubur, tetapi oleh Al Qur’an dinamai “orang-orang yang hidup dan mendapatka rezeki” (QS 3: 169). Demikian juga sebaliknya, ada orang-orang menarik dan menghembuskan nafas, namun dianggap sebagai “orang-orang mati” (QS 35: 22).

Lebih lanjut Prof. Dr Quraish Shihab menjelaskan: “Hidup dalam pandangan agama adalah kesinambungan dunia dan akhirat dalam keadaan bahagia, kesinambungan yang melampaui usia di dunia ini. Sehingga dengan demikian, tiada arti hidup seseorang apabila ia tidak menyadari bahwa ia mempunyai kewajiban-kewajiban yang lebih besar dan melebihi kewajiban-kewajibannya hari ini.

Hidup yang sedang kita jalani saat ini, bukanlah untuk kehidupan kita di masa kini. Hidup di dunia adalah kesempatan untuk mengumpulkan bekal bagi kehidupan di masa yang akan datang. Orang-orang beriman tidak hanya berorientasi pada kesenangan hidup di masa kini, tetapi lebih mementingkan kebahagiaannya di masa depan. Mereka sadar bahwa disamping wujudnya hari ini, masih ada wujud lain yang lebih kekal di akhirat kelak.

*) Penulis adalah Penyuluha Agama Islam Bidang Kerukunan Umat Beragama di KUA Kecamatan Ngunut.