Muhasabah Akhir Tahun: Kemerdekaan di Tengah Pandemi


Oleh: Iqlal Alifien *)

Akhir penanggalan kalender Islam tahun ini bertepatan pada bulan peringatan kemerdekaan Republik Indonesia, namun hingga hari ini pandemi yang melanda negeri masih belum kunjung berakhir, sungguh ironi. Momen yang lazimnya diperingati secara berkumpul dengan khidmat, sekarang harus dilakukan dengan jaga jarak demi saling jaga kesehatan.

Mungkin ini waktu yang tepat untuk bermuhasabah, merefleksi diri dari segala perbuatan. Allah berfirman dalam surat Ar-Rum ayat 41 yang terjemahannya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Imam Jalaludin dalam Tafsir Jalalain menjelaskan kalimat “karena perbuatan tangan manusia” dengan arti “karena maksiat”. Artinya bahwa kerusakan di bumi ataupun di langit timbul karena kemaksiatan umat manusia. Kemaksiatan di sini tentu bukan hanya berbentuk pelanggaran seperti minuman keras, berjudi, zina, atau sejenisnya. Segala bentuk eksploitasi alam lingkungan yang berlebihan pun adalah kemaksiatan. Keseimbangan alam yang timpang, seakan membuat alam melakukan self-healing dengan cara memproduksi pandemi ini.

Dalam peristiwa-peristiwa sejarah kemerdekaan dan penentuan penghitungan awal kalender islam terjadi perubahan-perubahan yang dinamis. Seperti cuplikan dalam buku “Nasionalisme & Revolusi di Indonesia” karya George Mc Turnan Kahin, setelah kemerdekaan Republik Indonesia diproklamirkan, masih ada campur tangan Belanda dalam kepemerintahan sehingga memunculkan Revolusi Nasional. Perubahan sangat terasa pada wilayah sosial karena struktur kerajaan-kerajaan melebur menjadi satu demi mendukung dan merebut penuh hak kemerdekaan Republik Indonesia.

Begitu pula ketika penentuan awal kalender islam, terjadi perdebatan diantara para sahabat yang pada akhirnya diputuskan oleh Sayyidina Umar bin Khotob melalui musyawarah bahwa penghitungan awal kalender islam dimulai saat hijrahnya Nabi Muhammad SAW dari Mekah menuju Madinah. Dalam Fathul Bari disebutkan “Dari Sahl bin Sa’d ia berkata: mereka (para sahabat) tidak menghitung (menjadikan penanggalan) mulai dari masa terutusnya Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan tidak pula dari waktu wafatnya beliau, mereka menghitungnya mulai dari masa sampainya Nabi di Madinah”. Sebuah simbol revolusi pemisahan antara yang hak (kebenaran) dengan yang batil.

Dari peristiwa-peristiwa besar tersebut, hendaknya bisa diambil hikmahnya untuk bahan muhasabah. Barangkali selama ini manusia telah semena-mena terhadap alam lingkungan sehingga saat ini mendapat reminder dan punishment berupa pandemi.
Saatnya untuk merevolusi diri sendiri, menempatkan diri sama seperti makhluk lainnya, melebur menjadi satu di bawah kuasa Allah SWT sehingga alam semesta kembali menjadi selaras dan seimbang.

Peristiwa-peristiwa tadi juga tercatat mengalami perubahan dinamis seperti halnya yang dialami hari ini, penerapan protokol kesehatan, adaptasi kebiasaan baru (AKB) yang pastinya masih terasa asing dan sulit. Walaupun begitu, pada akhir tahun hijriyah ini, mari berupaya mengakhiri pula perbuatan batil serta memulai era baru dengan membiasakan diri sehingga meskipun ditengah pandemi, kita masih dapat merasakan kemerdekaan yang hakiki.

*) Penulis adalah Penyuluh Agama Islam Non-PNS KUA Ngantru Bidang Narkoba & HIV AIDS