JIHAD DIGITAL DAI MILENIAL

Oleh: Kang Rosadi

بَلِّغُوا عَنِّى وَلَوْ آيَةً

“Sampaikanlah dariku walau hanya satu ayat” (HR. Bukhari)

Hadits di atas merupakan motivasi bagi setiap individu muslim, untuk senantiasa berkontribusi dalam aktivitas penyampaian risalah di jalan Allah. Dakwah bukan hanya kewajiban ulama ataupun kyai. Tapi, setiap muslim senantiasa berada dalam misi mulia ini, tentunya sesuai dengan kadar kemampuannya, dan tidak melampaui batas keilmuan serta pemahamannya. Dakwah dalam pengertian amar ma’ruf nahi munkar merupakan syarat mutlak bagi kesempurnaan dan keselamatan hidup masyarakat. Ia merupakan implementasi terhadap perintah Ilahi, yaitu menyeru manusia ke jalan yang diridhai. Melaksanakan tugas dakwah merupakan puncak kebaikan dan kebahagiaan, sebagaimana terdapat dalam Firman-Nya: Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah dan mengerjakan kebajikan dan berkata: Sesungguhya aku termasuk orang-orang yang berserah diri” (QS. Fushshilat: 33)

Variasi berdakwah senantiasa berkembang melalui tata cara yang sangat beragam. Butuh strategi untuk bisa berkompetisi serta menyesuaikan dengan tuntutan masa kini. Dakwah selalu berhadapan dengan problem yang sangat kompleks, sehingga perlu adanya da’i yang memiliki peta dakwah sesuai konteks. Banyak da’i yang memiliki wawasan keilmuan yang mumpuni, tetapi akibat konsep dakwah yang masih mentah, tujuan dakwah menjadi belum maksimal terealisasi.

Lalu, bagaimana dengan konsep dakwah di era digital saat ini?

AGAMA DALAM RUANG TEKNOLOGI

Era baru teknologi informasi telah melahirkan masyarakat virtual. Hal tersebut berdampak terhadap perubahan kultural yang sangat radikal, dari citizenship menjadi netizenship. Pengaruhnya sangat terasa, terlebih dalam hal pembelajaran agama. Banyak orang belajar dan mengajar agama tidak lagi fii majlis al-ilmi (di majlis ilmu), melainkan cukup berada  fii majlis maya (di dunia maya, red). Dakwah dan ngaji on-line semakin ke sini semakin diminati. Konten dakwah-pun banyak yang didistribusikan melalui berbagai kanal digital, seperti: youtube channel, live streaming, VOD (video on Demand), dan sebagainya. Hal ini menunjukkan adanya keeratan kolerasi antara agama dan teknologi informasi.

Era digital saat ini cenderung menyebabkan terjadinya mediatisasi agama. Nilai-nilai luhur agama yang sakral seringkali diposisikan hanya sebagai material, yang kemudian disajikan dengan logika media yang bersifat komersial. Sehingga pemahaman utuh agama, harus seringkali tereduksi oleh logika media itu sendiri. Mediatisasi ini, menurut Stig Hjarvard, menyebabkan tranformasi agama ke dalam tiga bentuk: pertama: agama menjadi sumber utama media, kedua: media menentukan informasi dan pengalaman keagamaan dalam kaitannya dengan genre media, dan ketiga: media menjadi lingkungan sosial dan budaya yang mengambil alih banyak fungsi keagamaan yang terlembagakan. Hal ini tidak mengherankan, karena media digital saat ini mampu menjadi realitas sosial baru yang menyerupai realitas yang ada di dunia nyata.

Mediatisasi agama yang menyebabkan membeludaknya konten-konten agama di dunia maya pada titik tertentu memicu terjadinya disrupsi informasi. Satu sisi, hal tersebut bisa memudahkan siapa pun mengakses pengetahuan. Di sisi lain, hal itu dapat menyebabkan kegamangan. Pasalnya, tidak semua konten agama didesain dengan tujuan mulia. Banyak informasi keagamaaan yang berseliweran itu memuat kepentingan-kepentingan individu yang bersifat temporal semata. Propaganda, radikalisme, hoax, dan konten-konten negatif lainnya sama-sama bebas melanglangbuana di dunia maya. Ibarat panggung gegap gempita, semua orang bisa menjadi pemainnya. Ruang publik menjadi sebuah arena kontestasi antara yang buruk dan yang baik.

Memanfaatkan konten di dunia digital membutuhkan berbagai prasyarat agar tidak menjadi madharat. Beberapa prasyarat yang diupayakan diantaranya adalah literasi digital (digital literacy). Kemampuan ini dibutuhkan seseorang dalam upaya dapat mengakses, menganalisis, serta mengevaluasi berbagai konten yang ada dan tersebar di dunia maya. Dengan literasi digital (digital literacy), setiap orang punya bekal untuk membuat dan menerima informasi secara terstruktural. Berpikir analitis dan evaluasi kritis dalam hal ini menjadi sangat penting, karena beragamnya informasi dan kemudahan konten diciptakan  oleh netizen.

Terdapat empat kompetensi inti yang mencirikan seseorang memeliki kemampuan literasi digital (digital literacy) yang mumpuni, yaitu: kompetensi pencarian internet (internet searching), kompetensinavigasi hypertextual (hypertextual navigation), kompetensi evaluasi konten (content evaluation), serta kompetensi penyusunan pengetahuan (knowledge assembly).  Dewasa ini, keempat kompetensi ini sangat penting untuk dimiliki, baik oleh penyedia maupun pengakses informasi. Hal tersebut terkait erat dengan polarisasi di sosial media yang kadang mengaburkan esensi. Mengingat tidak adanya peran gatekeeper dan minimnya peran regulator dalam mengontrol konten media ini. Semakin tinggi tingkat literasi digital (digital literacy) seseorang, semakin banyak makna pesan yang dapat digali, serta semakin bijak dalam menyikapi dan menginterpretasi pesan pada media baru ini.

Dalam konteks agama, pengakses internet juga memperlukan literasi keagamaan (religious literacy), yaitu suatu kemampuan yang berfungsi untuk membedakan dan menganalisis persimpangan fundamental agama dan kehidupan sosial, politik, budaya melalui berbagai sudut pandang. Seseorang dengan literasi keagamaan (religious literacy) akan mampu membedakan dan mengeksplorasi mana dimensi religius dan mana yang bukan. Ia tidak mudah menerima begitu saja informasi keagamaan yang ada di dunia digital tanpa proses verifikasi konten. Hal tersebut dikarenakan, hidup di masyarakat serba terbuka, membutuhkan kemampuan berpikir yang terbuka pula.

JIHAD DIGITAL DENGAN KONTEN POSITIF

Melihat fenomena dan tantangan pada dunia digital yang nirbatas saat ini, tentu bukan kemudian menganggapnya sebagai momok yang penuh dengan efek negatif, akan tetapi justru merupakan tantangan yang memerlukan peran aktif para da’i untuk mengisi timeline  dengan konten-konten positif guna membangun karakter sosial sebagai bagian dari jihad digital. Seseorang yang memiliki kompetensi dalam bidang tertentu haruslah melakukan langkah kongkrit untuk berpartisipasi aktif di dunia maya, agar netizen tidak dibingungkan oleh narasi-narasi negatif nan profokatif yang penuh rekayasa.

Membangun kesadaran bersama bahwa dunia digital sebagai ruang publik menjadi salah satu hal yang krusial dalam membangun empati bersama. Dengan demikian, dalam berinteraksi di dunia maya, tentu saja ada etika umum yang sudah semestinya dijaga. Ibaratnya hidup dalam masyarakat, meskipun masyarakat itu tergambar dalam bentuk akun-akun yang tidak pernah bertemu muka, namun etika dan perilaku bermasyarakat juga semestinya dijaga. Tujuannya tidak lain adalah supaya terhindar dari konflik atau perselisihan, disamping itu juga untuk menghargai satu sama lain.

Menjadi pengguna media sosial haruslah cerdas dan bijaksana. Tidak boleh langsung menghakimi sesuatu konten sebelum tahu kebenarannya. Dalam hal ini, proses “saring” menjadi penting. Analisis konten harus dilakukan demi validitas informasi sebelum di-publish. Solusi yang terbaik ketika memperoleh suatu berita ialah dengan mengecek sumbernya, serta membandingkan dengan sumber-sumber lainnya. Ini untuk menghindari konten-konten sampah (hoax), ataupun konten yang termasuk kategori hate speech dan SARA, yang memungkinkan mengundang kebencian di sebagian kalangan. Narasi, seindah apapun, jika menyulut kebencian atau hasutan, tentu akan berimbas pada perpecahan.

Setelah itu, yang lebih penting adalah bagaimana narasi alternatif bisa merebut ruang publik. Tentu tidak cukup hanya dengan memposting di timeline saja. Perlu kerjasama lintas jaringan untuk mem-viral-kan konten-konten positif dan edukatif pada semua jaringan komunikasi yang dimiliki. Ketika ekosistem tersebut terbentuk, dan direkatkan dengan kesamaan visi misi, rasa merasa, dan ideologi, maka akan lebih mudah menciptakan sebuah trust. Hal tersebut dikarenakan, algoritma yang dikembangkan oleh youtube, twitter, facebook, serta media sosial lainnya, selalu membaca, mencatat, dan menganalisis kebiasaan penggunanya. Secara otomatis, mereka yang memiliki kesamaan akan terkelompokkan dalam satu zona tertentu. Hanya orang dan narasi yang dalam jangkauannya saja yang berseliweran di beranda. Oleh karena itu, penting kiranya mempelajari cara kerja dunia digital serta mengoptimalkannya, untuk menjadi influencer di sosial media.

AMMA BA’DU

Kemenangan kebaikan di media digital adalah saat para da’i mampu menjadi pembaca dan pencipta konten dengan pengetahuan kompetensi literasi digital (digital literacy) serta kompetensi keagamaan (religious literacy) yang mumpuni. Pergeseran pola komunikasi secara face to face ke arah computer mediated communications (CMC) menjadi sebuah tantangan bagi para da’i untuk senantiasa berkompetisi membuat narasi-narasi positif dan penuh dengan nilai edukatif. Bukan hanya sekedar menjadi trending topic, akan tetapi benar-benar apik dan empirik.

Seindah apapun narasi yang dibangun, jika berimbas pada munculnya benih kebencian dan perpecahan dikalangan masyarakat, haruslah dilawan. Maka, memperbanyak narasi-narasi alternatif yang mengajarkan kebaikan dan persatuan di ruang publik (digital) sangat penting dilakukan, sebagai bagian dari upaya amar bil ma’ruf mahi munkar dalam rangka mewujudkan izzul islam wan muslimin. Tentu saja, hal tersebut tidak mudah. Perlu sinergitas seluruh kekuatan moderat untuk bersama-sama berpartisipasi mengisi ruang publik di media digital ini.

0

162 thoughts on “JIHAD DIGITAL DAI MILENIAL

  1. You actually make it seem so easy with your presentation but I find this topic to be really something which I think I would never
    understand. It seems too complex and extremely broad for me.
    I’m looking forward for your next post, I’ll try to get the hang of it!

    0
  2. Fantastic goods from you, man. I’ve understand your stuff
    previous to and you are just extremely fantastic.
    I really like what you have acquired here, certainly like what you’re stating and
    the way in which you say it. You make it entertaining and
    you still care for to keep it smart. I cant wait to read much more from you.
    This is actually a tremendous web site. cheap flights http://1704milesapart.tumblr.com/ cheap flights

    0
  3. hello my lovely stopforumspam member

    What are the Types of Loans in Ohio depending on the purpose
    Specific purpose payday loans in Ohio. Funds received in debt may be spent only for a specific purpose specified in the loan agreement.
    Non-purpose loan. The debtor may spend the money received at his discretion.
    Most popular specific purpose payday loans in Ohio are:

    House loan. The most common, of course, is a mortgage when the purchased property acts as collateral for a loan. Sometimes a youth loan is issued, with lighter conditions for debtors. Still quite common is a housing loan that does not imply purchased housing in the form of collateral.
    Car loan – payday loans in Ohio to a car or similar vehicle. The key is often the purchased goods, making the terms of the loan better. Also, loan conditions are improved: car insurance, life and health insurance of the borrower, and receiving a salary to the account of the creditor bank.
    Land loan. To purchase a plot for construction or agricultural activities.
    Consumer. For purchases in modern supermarkets, equipment stores, you can take a personal loan right at the point of sale. Often, specialists located there can contact the bank and get a regular or fast payday loans. Borrowed funds automatically pay for the goods, and the consultant explains when and how to re-pay the debt.
    Educational loan. It is issued to students, as well as to applicants who have passed the competition, to pay for tuition at universities, colleges, etc.
    Broker loan. For the circulation of securities, payday loans in Ohio are issued to an exchange broker, se-curities are purchased securities.
    Others. Objectives not related to those listed, but agreed and approved by the creditor.

    0
  4. Hi there! I know this is kinda off topic but I was wondering
    which blog platform are you using for this website?

    I’m getting fed up of WordPress because I’ve had problems with hackers and I’m looking at alternatives for another platform.
    I would be fantastic if you could point me in the direction of a good platform.

    0
  5. hello my lovely stopforumspam member

    Welcome to Grosvenor Casinos, where you can play a wide range of casino games, from slots to poker, blackjack, and roulette! There’s something for everyone here – become a member of the casino to have the best of online casino gaming. Our Sportbook offers a range of sports betting odds and is available for pre event or in play bets 24/7 and 365 days of the year. Whether you’re here for football tournaments or the latest betting odds for horse racing, Tennis, Golf, Cricket and even Rugby Union, you are covered.

    0

Leave a Reply

Your email address will not be published.